Jumat, 27 November 2009

Ikatan Batin Terpendam


Sahabat cewek saya mengirimkan sebuah SMS tadi sore. SMS itu bernada tawaran magang di salah satu kantor search operator legendaris di Indonesia. Tawaran itu sudah diajukannya semenjak saya masih berancang-ancang keluar dari kantor lama.


Dia bilang, saya bakal punya banyak dan banyak sekali waktu untuk menggeluti aktivitas padat macam magang ini setelah mengundurkan diri dari kantor, tempat mengabdi dua tahun belakangan.


Saya pikir dia benar. Teman dekat saya sejak tiga tahun silam itu memang pernah bekerja di kantor yang sama dengan saya. Jabatannnya pun sama. Meski “cuman” bergelar penulis, namun saya berani kasih empat jempol untuknya.


Dia tak perlu berjuang keras untuk meniti karir di sana. Saat SMA, dia pernah memenangkan salah satu kompetisi gelaran kantor saya. Selepas masa abu-abu, dia pun ditawari untuk bekerja di sana. Beda 540 derajat dengan saya. Harus memutar otak semalam suntuk, mengarang tampilan CV agar bisa memikat petinggi kantor. Walau akhirnya, kelihaian menjawab dan performance saat tes wawancaralah yang menentukan kami. He he he.


Tawaran magang itu membuat saya bergumam. Mampu apa, mengalihkan perhatian dari kantor yang jam bukanya mengalahkan restoran cepat saji 24 hours di sebelahnya, menjadi pegawai berlabel magang yang lebih mirip siswa SMK. Ups, maaf, but that’s fact. Bukannya merendahkan, tapi kerjaannya pun belum pasti. Ranahnya yang berbeda pula.


Semula bekerja di media, kini public relations magangan. Semula bergelut dengan naskah dan deadline, sekarang harus berani maju dengan strategi komunikasi organisasi jitu. Sama-sama bakal berurusan dengan koran, sih. Tapi dulu, saya menjadi salah satu pengisi rubriknya. Nanti, menjadi pengamat koran yang lebih mirip pengangguran. Mencari berita apa yang menyangkut perusahaan tempat saya bakal naungi. Yang bagus, hingga jelek, atau bahkan jelek sekali,


Bukan!. Saya bukan seperti kucing melihat air saat ditawari magang di situ. Justru, beberapa pertanyaan menggelitik muncul di benak saya. Apakah pekerjaan ini bakal semenantangnya saat saya bekerja di DetEksi. Apakah saya akan mendapatkan keluarga dan bukan rekan kerja yang egois dan bekerja dengan gaya katak, tendang kanan-kiri demi kenaikan pangkat.

***

Bekerja di DetEksi, seperti saya bilang tadi, berawal dari sebuah feeling. Yang merasa punya nyali, dia yang mengirimkan CV. Yang merasa keren, dia yang berusaha lolos tes tiap tes. Yang pengin maju, dia yang bertahan ketika event berat berjalan. Dari situlah timbul seleksi alam untuk melihat siapakah yang sanggup berpegangan pada prinsip awal, atau tidak.


It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word


` Dan saat event itu semakin tumbuh, berkembang ke segala arah, kami pun ada di dalamnya. Setiap orang masing-masing ikut tumbuh dewasa bersamannya. Nggak ada ceritanya, satu orang ngedumel sendiri dengan masalahnya. Yang ada, sebuah forum kecil bersama teman-teman yang selalu menyelamatkan kami. Entah dari persepsi buruk tentang siapapun (terutama atasan) atau bahkan kepenatan saat kerja.


And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Perjalanan saya memang sudah berakhir di sana. Di tempat yang saya idamkan selama masa putih abu-abu, saya berusaha untuk mengabdikan pikiran, jiwa, sampai perasaan. Di sana pulalah, saya belajar banyak. Bahkan juga belajar untuk belajar yang baik dari seseorang tentang sebuah ilmu yang bagus.


Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war


Berarti, saya boleh simpulkan, ada sebuah ikatan batin antara saya dengan mereka. Antara saya dengan kantor yang luasnya empat kali rumah saya itu. Bahkan, antara saya dengan setiap komputer di dalamnya. Karena setiap hari saya dan keluarga baru saya itu, berkutat dengan hal-hal itu saja.


Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
`


The Call by Regina Spektor,

-OST Narnia Prince Of Caspian-


Berarti, saya tidak butuh kata berpisah dari mereka. Wong, saya masih “cinta” dengan kantor itu. Cuma caranya saja yang berbeda dengan mereka yang masih setia di sana. (*)

Minggu, 08 November 2009

Welcome Abroad !!!

Amplop coklat itu penuh sudah. Di dalamnya, terdapat satu lembar surat lamaran kerja, beberapa lembar fotokopi identitas diri, serta sertifikat beberapa kompetisi dan piagam yang pernah saya renggut. Semuanya saya tata rapi, dengan urutan yang membutuhkan dua kali waktu berpikir. Sudahkah semuanya sempurna.

Amplop itu lalu saya titipkan pada salah seorang sahabat SMA. Sebut saja Rina namanya. Ia sudah bergabung di kantor itu, tiga bulan sebelumnya. Dia pula yang membantu saya dengan merekomendasikan pada pucuk pimpinan. Ya, semacam refrensi halus dari bawahan.

Disana, ia bercerita, tempatnya asyik. Isinya muda-mudi semua. Anak-anaknya gaul. Bukan itu saja. Semuanya rame. Bahkan, paling ramai diantara seluruh ruangan di dalam kantornya.

Dalam hati, saya bergumam, saya akan menjajal untuk menjadi salah satu dari mereka. Berarti, sisi antusias, kreatif, ulet, dan tetek bengek yang berkaitan dengan rajin, harus dikeluarkan. Seenggaknya, begitu prinsip awal ketika memasuki “belantara”.

Besoknya, saya langsung interview. Untuk menguji kemampuan pelamar, di dalamnya juga ada tes tulis dkk. Di tes interview, saya diwawancarai oleh total delapan petinggi perusahaan tersebut. Ya, itu rintangan pertama. Beberapa diantaranya karismatik. Itu ujian kedua. Bisa-bisa, saya malah terjegal karena pancaran karismanya. He he.

Tapi, dewi fortuna masih dipihak saya. Saya lolos seleksi pertama. Saya bangga. Berarti, one step closer untuk menjadi salah satu dari kumpulan otak-otak cerdas.
Memasuki seleksi kedua, saya dihadapkan oleh tes lapangan. Singkat cerita, kantor tempat saya lamar adalah sebuah harian anak muda. Setiap hari selalu mengupas topik yang menarik. Nah, biar seru, halaman tersebut mencari pendapat ratusan anak muda tentang topik tersebut. Caranya? Lewat kuisioner yang dibagikan.

Kembali pada tes kedua. Tes ini diadakan di salah satu mal di pusat Surabaya. Rules-nya begini: masing-masing peserta diberikan beberapa kuisioner. Kuisioner tadi harus diisi oleh anak SMA, yang seluruhnya harus duduk di foodcourt mal itu. Mau saya garis bawahi? Ya, harus berada di foodcourt itu.

Ini termasuk sulit. Waktu yang diberikan hanya dua jam. Setelah itu, kami diharuskan kembali ke kantor. Bagaimanapun caranya, terlambat setengah menitpun bakalan jadi mimpi buruk bak telat saat UNAS.

Jangan bayangkan anak-anak SMA berkeliaran di foodcourt. Hari itu bertepatan dengan ujian serentak di seluruh SMA di Surabaya. So, Excatly ! Hanya pelajar setengah edan yang memutuskan untuk belajar di tengah keramaian foodcourt plasa. Tak apalah, pikir saya. Toh, tekad saya untuk bergabung sudah bulat.

Ujian tersebut benar-benar rintangan yang berat kala itu. Kami yang masih buta soal kertas kuisioner, keberatan. Alhasil, paling banyak, satu anak hanya mendapatkan sepuluh respondet. Itu pun tiga diantaranya tak valid. Dan tebak, berapa dari kami yang berhasil tepat waktu tiba di kantor? Hanya satu orang. Poor me, orang itu bukanlah saya.

Sesaat setelah tiba, kami dikumpulkan di sebuah ruangan. Disitu, kami, yang waktu itu bersepuluh, diinterograsi kecil-kecilan tentang kebulatan tekad untuk bekerja di sana. Masing-masing peserta pun menunduk. Seolah-olah sedang disetrap karena nilai ujian jeblog.

Si penginterograsi, yang kebetulan salah satu petinggi, mengatakan tentang hal-hal buruk kedepan. Ada banyak halangan yang merintangi kami. Baik dari internal, such as kemalasan dan kebosanan, dan parahnya, eksternal. Kalau dari eksternal, ada orang tua dan teman-teman sekitar. Maksudnya, apakah semua halangan tadi benar-benar sudah lenyap? Kalo iya, itu berarti kami siap bekerja di sana. Dan pertanyaan itu pun terjawab tiga hari kemudian.

Saya dan sembilan orang peserta lainnya dinyatakan lolos seluruh seleksi. Oh God, kami berhasil mendapatkan tiket emas itu!. Dalam seumur hidup, itulah masa-masa dimana saya merasa bak menang di Olimpiade fisika internasional. Kemenangan ini yang akan membawa saya menuju sebuah babak baru. Babak dimana saya, dan seluruh waktu saya akan dihabiskan di sebuah kantor yang bernama DetEksi Jawa Pos.

Confession Of A Workaholic




Siang itu, kaki berhasi diajak kompromi untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan komputer terlengkap di Surabaya. Letaknya di pusat kota. Semua orang,rakyat bangsa IT dan komputer, sudah khatam tentang tempat “peribadatan” mereka ini.

Tujuan awal, survei charger notebook. Kebetulan, notebook saya mati suri. Mulai tiga hari lalu, lappie saya kehilangan antibiotik-nya itu.

Sampailah saya di depan etalase toko yang juga tempat membeli lappie itu. Rupanya, toko itu tak banyak berubah. Di etalasenya, puluhan komputer jinjing masih terpajang rapi. Dan dengan papan harga yang masih bisa dibikin shock therapy. Harganya berlipat-lipat gaji bulanan saya.

Tiba-tiba, suatu pemandangan tak sedap dipandang muncul di sebelah saya persis. Si bos toko, yang kebetulan etnis Tionghua, menyuruh anak buahnya, etnis Jawa tulen, untuk mengelap kaca etalase. Spontan, terdengar kasar.
Nadanya tinggi. Mungkin bagi saya yang terbiasa hidup di “belantara deadline”, terbilang tegas. Tapi mbak-mbak tadi justru menerjemahkan dengan ekspresi kesal.

Oleh mbak-mbak tadi, kaca etalase dilapnya rapi. Tapi dengan alis terpaut. Gerakannya asal-asalan. Bibirnya komat-kamit (sambil melafalkan mantra, kali ya). Parahnya, topik etnis selalu menjadi background umpatan masyarakat pribumi. Tak terkecuali, si mbak penjaga toko tadi.

Saya yang berdiri di sebelahnya cuma bisa menyemangatinya dengan kata “Sabar, mbak”. Errr, mbak-mbak tadi malah tambah kesel. Dia malah makin kenceng muter-muter lap basahnya itu.

Huh, saya baru saja bertemu karyawan paling aneh. Apalagi pas saya tinggal pergi, mbak-mbak itu malah balik ngerayu. "Lho, mas, mau kemana? Sini aja, temenin saya," katanya sambil senyum-senyum nggak jelas. Jiaaah....

Satu senyum simpul untuk mbak tadi, ribuan makna di kepala untuk kejadian barusan. First thing first, saya kepikiran. Apa ada yang salah dengan ucapan bosnya. Atau saya yang terbiasa dijejali ocehan editor yang kadang begitu pedasnya (minum air segalon nggak bakal mempan), walau akhirnya membuat standarisasi akan kebagusan naskah kami menapak perlahan?.

Saya sempat mengrenyitkan dahi. "Keluarga" saya di kantor, sangat dan sangat bisa menganggap remeh suruhan si bos tadi. Ya jelaslah, karena mereka terbiasa dengan cambukan verbal. Mereka menjadi sosok yang kuat lantaran terbiasa dikejar-kejar deadline apapun.

Saya salut. Bahkan, sesosok sahabat masih sanggup menebar pesona setelah uang makannya terpaksa disunat. Waktu itu, spanduk orderan si bos belum kelar.

Lantas, pusing berapa keliling mereka? Not at all, mbak!.

Mereka paham, kalo dimarahi, standarisasi kemampuan kita bakal meningkat. Apalagi, amarah itu sifatnya sementara. Objektif, pula. Belum pernah sepanjang perjalanan di gedung biru itu, saya dengar atasan membentak sambil ngungkit kebiasaan yang dibentak. Semuanya berbasis pekerjaan yang dilakoninya.

Jadi teringat celoteh supervisor saya. Orang masuk dunia kerja punya standar segini (sambil menyodorkan tangan kanannya). Kalau dimarahi (memukulkan tangan kanannya itu dengan tangan kirinya dari bawah), standarnya bakal naik. Berulang dimarahi, berulang pula standarnya naik. Tujuannya satu. Supaya standarisasi bagusnya pekerjaan kita semakin naik.

Menurutku, standar mbak tadi masih tersungkur di lantai terdasar. Bahkan mungkin, basement.

She’s work with pressure, not plesure.
Work with plesure...

Yap, itu angel yang pernah diangkat mantan koordinator editor saya di blog pribadinya. Bekerjalah dengan penuh kesenangan, dan uang yang bekerja untukmu. Bekerjalah dengan penuh keluhan, maka uang akan menguap bersama keringatmu. Idiom unik nan menarik inilah yang membimbing saya, dia, dan mereka (keluarga di kantor) menjadi orang-orang tangguh. Honestly, saya bangga berkeluarga mereka.

Saya tak ingin menggurui siapapun. Bahkan diri sendiri. Hanya ingin membagikan pelajaran bermakna. Saya tahu persis, suatu saat akan menjadi sosok seperti seperti mbak tadi. Mengernyitkan dahi ketika dimarahi. Tapi, bukanlah itu hal yang wajar?. Percayalah, kita akan mengernyitkan dahi pula. Bedanya, dia mengelap kaca berukuran 4x3 meter, keluarga saya sudah mengerjakan even basket taraf internasional paling bergengsi se-Indonesia.

Believe me, it’s just another confession of a workaholic!!.

Sabtu, 28 Februari 2009

Tolong Pukul Saya

Seorang touris dari Australia yang baru 3 hari mengunjungi Indonesia ingin melihat Borobudur.

Selama tinggal di hotel sederhana di Yogya ditemani seorang guide dari Indonesia, dan belajar bahasa Indonesia. Mulai dari cara bertanya "pukul berapa berapa? Harganya berapa?"

Suatu hari mereka pergi ke Borobudur naik bis murah meriah turunnya di terminal kumuh yang padat dan semrawut.

Tiba-tiba siTuris berteriak "Pukul...Pukul....Pukul saya," sambil menunjukkan ke pergelangan tangannya.

Si Guide dan orang sekitar pada bingung. Setelah tau rupanya yang dimaksud pukul adalah Jam tangannya yang telah dicopet.
Sent by: Rahula Nursyah Candra on Feb 26th, 2009 | Rate it and send to friend

Sekarang Lebih Berani

Sakit gigi membuat Joko sangat tersiksa. Tapi ia sangat takut dengan jarum suntik dan peralatan dokter gigi. Karena sudah sangat tak tahan, akhirnya Joko nekad pergi juga.

Dokter menjelaskan bahwa gigi gerahamnya harus dicabut. Ketika akan disuntik, Joko berkata,"Dok tolong jangan disuntik, saya takut dok!"

Tahu Joko takut, dokter menawarkan segelas bir untuk diminumnya agar rasa takutnya bisa berkurang. Lalu si dokter berkata,"Bagaimana, anda sudah lebih berani sekarang?"

Joko menjawab,"Benar. Sekarang saya merasa lebih berani. Siapapun yang menyentuh gigi saya akan tahu akibatnya!!!"

????!!!!!??

Ketawa, Yuk.

Murid Kelas 1 SD Belajar Peribahasa
Category: Humor Umum
Di kelas 1 SD Seorang guru bahasa Indonesia sedang mengajarkan pelajaran tentang peribahasa.

Guru : "Anak-anak, apa lanjutannya peribahasa ini... 'Biar lambat asal......' "

Anak-Anak: "SELAMAAAAAAT, PPPAAAAKKKK!"

Guru : "Betul.. seratus buat anak-anak, sekarang peribahasa selanjutnya 'Lain padang lain belalang.....?' "

Anak-Anak: "LAIN LUBUK LAIN IKANNYA PPPPAAAAAKKKK !!!!!"

Guru : Pinter kalian! Sekarang apa lanjutannya.... 'Guru kencing berdiri...?'

Anak-anak: "SIAPA YANG MAU LIAAAAT !!!!!!!! EMANGNYA KAMI HIDUNG BELANG...HUUUUUUUU !!!!!"

Guru : ^#^#@^$@!@%$#^$&%*%&$##!!!!

Senin, 08 Desember 2008

Apakah itu VoIP ?

VoIP, bagi sebagian orang sudah bisa merasakan kaidahnya, namun sebagian lagi masih harus bersusah payah menggali manfaatnya. Tidak semua orang mengerti VoIP. Namun, apakah arti sesungguhnya VoIP ?

Voice over Internet Protocol (juga disebut VoIP, IP Telephony, Internet telephony atau Digital Phone) adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa. Bentuk paling sederhana dalam sistem VoIP adalah dua buah komputer terhubung dengan internet. Syarat-syarat dasar untuk mengadakan koneksi VoIP adalah komputer yang terhubung ke internet, mempunyai kartu suara yang dihubungkan dengan speaker dan mikropon. Dengan dukungan perangkat lunak khusus, kedua pemakai komputer bisa saling terhubung dalam koneksi VoIP satu sama lain. Bentuk hubungan tersebut bisa dalam bentuk pertukaran file, suara, gambar. Penekanan utama untuk dalam VoIP adalah hubungan keduanya dalam bentuk suara. Jika kedua lokasi terhubung dengan jarak yang cukup jauh (antar kota, antar negara) maka bisa dilihat keuntungan dari segi biaya. Kedua pihak hanya cukup membayar biaya pulsa internet saja, yang biasanya akan lebih murah daripada biaya pulsa telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) atau internasional (SLI). Pada perkembangannya, sistem koneksi VoIP mengalami evolusi. Bentuk peralatan pun berkembang, tidak hanya berbentuk komputer yang saling berhubungan, tetapi peralatan lain seperti pesawat telephone biasa terhubung dengan jaringan VoIP. Jaringan data digital dengan gateway untuk VoIP memungkinkan berhubungan dengan PABX atau jaringan analog telephone biasa. Komunikasi antara komputer dengan pesawat (extension) di kantor adalah memungkinkan. Bentuk komunikasi bukan Cuma suara saja. Bisa berbentuk tulisan (chating) atau jika jaringannya cukup besar bisa dipakai untuk Video Conference. Dalam bentuk yang lebih lanjut komunikasi ini lebih dikenal dengan IP Telephony yang merupakan komunikasi bentuk multimedia sebagai kelanjutan bentuk komunkasi suara VoIP Keluwesan dari VoIP dalam bentuk jaringan, peralatan dan media komunikasinya membuat VoIP menjadi cepat popular di masyarakat umum. Khusus untuk VoIP bentuk primitif dari jaringan adalah PC ke PC. Dengan memakai PC yang ada soundcardnya dan terhubung dengan jaringan maka sudah bisa dilakukan kegiatan VoIP. Perkembangan berikutnya adalah pengabungan jaringan PABX dengan jaringan VoIP. Disini dibutuhkan VoIP gateway. Gambarannya adalah lawan bicara menggunakan komputer untuk menghubungi sebuah office yang mempunyai VoIP gateway. Pengembangan lebih jauh dari konfigurasi ini berbentuk penggabungan PABX antara dua lokasi dengan menggunakan jaringan VoIP. Tidak terlalu dipedulin bentuk jaringan selama memakai protocol TCP/IP maka kedua lokasi bisa saling berhubungan. Yang paling komplek adalah bentuk jaringan yang menggunakan semua kemungkinan yang ada dengan berbagai macam bentuk jaringan yang tersedia. Dibutuhkan sedikit tambahan keahlian untuk bentuk jaringan yang komplek seperti itu. Pada awalnya bentuk jaringan adalah tertutup antar lokasi untuk penggunaan sendiri (Interm, Privat). Bentuk jaringan VoIP kemudian berkembang lebih komplek. Untuk penggunaan antar cabang pada komunikasi internal, VoIP digunakan sebagai penyambung antar PABX. Perkembangan selanjutnya adalah gabungan PABX tersebut tidak lagi menggunakan jaringan tertutup tetapi telah memakai internet sebagai bentuk komunikasi antara kantor tersebut. Tingkat lebih lanjut adalah penggabungan antar jaringan. Dengan segala perkembangannya maka saat ini telah dibuat tingkatan (hirarky) dari jaringan VoIP.

Senin, 01 Desember 2008

Tugas Pertekom

Generalist adalah seseorang yang memiliki sifat general, hanya mengetahui segala sesuatunya hanya pada permukaannya saja, tidak dan tidak ingin mengetahui sesuatu hal secara mendalam srta menyeluruh

Versatilist adalah seseorang yang memiliki sifat ingin tahu, oleh karena itu dia mengetahui tentang suatu hal secara mendalam dan menyeluruh. Orang ini dapat menjadi spesialis dari suatu bidang. Berpikir lebih tinggi tingkat pengetahuannya dari beberapa orang. Juga dikenal sebagai generalis spesialis

Rabu, 10 September 2008

Ranjau Darat si Buaya Darat

Waktu bangun tadi pagi, lebih tepatnya tiga perempat siang, aku kaget banget. Pasalnya, waktu beres-beres buat kuliahku kurang 10 menit lagi. Belum mandi, gosok gigi, masukin buku, dan lain-lain. Aku jadi inget kata-kata papa kalau beresin buku itu harus malem sebelumnya. Biar besok paginya nggak kalang kabut kayak angin ribut. Tapi dasar bandel, wejangan satu itu nggak pernah aku masukin kepala. Masuk kanan, keluar kanan lagi. Pada intinya nggak pernah masuk kepala. Hasilnya ? Hmm, jangan tanya. Setiap pagi pasti ada suara gubrak,gubruk,srak,sruk, dan suara aneh lainnya. Buku pelajaran ku kemana-mana, campur jadi satu kayak gado-gado.

Aku memang dari dulu berbagi meja belajar dengan adik tercinta. Kita berdua memang punya kebiasaan yang sama pula, sama-sama males memberskan meja belajar. Kebayang kan pasti susah banget buat milih atoupun milah yang mana buku aku yang mana buku dia. Pernah karena saking telatnya nih, aku buru-buru banget ke kampus. Mandi sudah dikebut-kebutin (masih pakai sabun lho ya), naik motor pun sudah kayak maling dikejar polisi. Sampai di kampus, memang nggak telat lah, dosen baru sama-sama naik tangga. Malah sempet nyapa juga.
Tapi, justru disinilah letak perkaranya. Begitu aku membuka tasku, yang aku lihat bukannya buku mata kuliah Statistik, malahan buku Seni Rupa punya adikku. Terkejut bin senam jantung lah aku. Untungnya aku duduk belakang (dasar orang Jowo, walau sial tetap cari untungnya). Lepaslah pengematan dosenku dari aku. Rada lega. Selesai ? Blom..

Ternyata hari itu dosenku memang sengaja nggak memberi catetan, supaya mahasiswanya lebih aktif katanya. Selama ini dia melihat mahasiswanya kurang banyak aktifitas kelas, mangkanya sekarang dia menyuruh mahasiswanya buat baca bab II. Kalang kabutlah aku. Mau baca buku, masak buku seni rupa yang aku baca. Mana kanan kiri aku orangnya rajin-rajin pula, jadi sungkan banget kalau seumpamanya harus pinjem salah satu dari mereka. Otak diputar, bagaimana caranya biarpun aku nggak bisa sekalipun, tapi ada etalase buku di atas mejaku supaya sang dosen nggak marah.

Dasar biang nya suudzon (bahasa arabnya berpikiran jelek,red). Nyokap bilang kalau kamu mikir hal yang jelek, pasti jadinya jelek juga. Terbukti !!. Si Dosen yang tadinya anteng kayak macan tidur, tiba-tiba dateng menghampiri mejaku. Dia dateng dan bertanya kayak polisi. "Mana bukumu?". Ibarat kethek (kera) ditimpuk, akupun menoleh kekanan dan kiri. bingung mau jawab apa. "Lupa bawa,Pak",ujarku. "Nah itu buku apa ? ", todongnya. Wah, dasar anak perawan berhati preman, bisa-bisanya dia melihat buku sialan itu. Padahal sudah aku sembunyiin di bawah tasku. Rupanya sampul bukunya agak mengintip eluar karena tadi buru-buru memasukkannya. "Anu,Pak. Ini bukan buku saya. Ini buku adik saya. Tadi kebawa karena buru-buru.".

Jederrr,,, langsung saja, ibarat Taufik Hidayat men-smash lawannya di Olimpiade Beijing, semprotan-semprotan dosenku keluar dan langsung mancep dipikiranku. Dia bilang kalo ini mata kuliah statistik, bukan seni rupa. Dia juga bilang kalau aku mau mengolah data pake diukir segala apa. dan segala macem-macemnya. Bukan itu saja. Akhir jam kuliahnya, aku disuruh ke ruangannya.Dasar apes, aku disuruh untuk buat makalah tentang arti statistik pada jaman kuno, bagaimana polanya, dan bagaimana orang melakukan sensus pada jaman Romawi kuno,dan sebagainya. Satu lagi, aku disuruh untuk memberi gambar dimakalah itu. Gambar harus digambar dengan tangan pula. Itu karena dihubungkan dengan seni rupanya itu. Semua gara-gara buku sialan itu. Coba kalau dari kecil aku sudah nurut apa kata Bokap, pasti nggak bakalan ada itu makalah Kesenian Rupa dari Statistik. Menjengkelkan...

-Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan
yang sangat buruk-

What A Wonderful Yesterday

Gila, baru pertama kali ini, aku merasakan panik banget. Kenapa nggak, masalahnya kemarin itu waktunya untuk memberi undangan event yang aku bikin, ke sekolah tujuan akhir. Nah, kalau sudah diterima undangannya sama itu sekolah, aku dapet stempel dan kontak person sebagai bukti undangan sudah nyampai ke tangan yang bersangkutan di dalam sebuah kertas. Njlalah (pasti orang sselain Jawa ngga tau bahasa ini), waktu aku mau nyerahin undangan terakhir itu,kok tiba-tiba kertas tanda bukti aku menghilang. Aku cari kemana-mana, di dalam atau di luar tas pun ngga ada.

Anehnya, tadi waktu di rumah, kertas itu sudah aku masukin rapat-rapat ke dalam tasku. Tiba-tiba hilang begitu aja. Heran,donk. Panik, pastilah !!. Gimana nggak, yang bikin kertas kumel itu berharga bak sertifikat rumah kan karena di dalamnya ada sembilan tandatangan dan stempel sekolah lain yang sudah aku datengin. Kebayang kalau hilang, berarti aku harus datengin lagi setiap sekolah dan mengemis tandatangan dan stempel sekolahnya. Iya kalau langsung diberi, waktu itu aja ada satu sekolah yang lama buanget ngasih stempelnya, hanya karena ditinggal gurunya mengajar. Aduh, bisa-bisa tua dijalan aku. Kodonglah aku (bahasa Makassar, artinya kasihan,red).

Begitu tahu kertas tanda bukti raib di depan mataku, aku langsung menelpon rumah untuk minta tolong mencarikan di rumah. Mereka bilang nggak ada dimana-mana. Waduh, sudah jatuh ketimpa tangga, kepleset pula. Sial bener nasibku. Saking nggak percaya aku sama orang rumah, aku bela-belain buat pulang demi nyari sendri kertas itu. Alhasil memang nggak ada dimana-mana. Lututku lemes banget. Ngga bisa membayangkan gimana marahnya si bos kalau kertas itu sampai hilang, apalagi karena kecerobohanku. Wahh !!1
Tapi, pepatah orang tua ku memang ngga ada matinya. Mereka bilang kalau Tuhan itu ngga pernah taidur alias tidur. Kalau kamu minta dan yakin, seaneh apapun permintaan mu pasti dikabulin. Cuma masuk akal, tapi akalnya siapa aku nggak tahu. Waktu dijalan sambil mecucu, aku minta sama Tuhan supaya kertas itu ketemu. Dalam bentuk utuh pastinya. Aku sudah mikir yang nggak-nggak, umpama kertas itu jatuh ke dalam got, ditemu orang terus dibuang ke tempat sampah karena dianggap kertas ngak jelas, sampai dibuat bungkus gorengan sama tukang gorengan.

Waktu dirumah tadi, sambil mengurangi pahal puasa dengan marah2, aku membuat lagi tanda bukti yang baru. Bener bener baru ! Kosongan tanpa ada stempel atau CP siapapun. Sambil berpiir pula kalau harus kembali ke satu persatu sekolah yang sudah aku datengin.
Dasar Dewi fortuna memang bikin happy (memangnya Dewi Persik aja yang bisa bikin happy), tiba-tiba waktu aku sudah menginjakan kaki di sekolah tempat "nyawaku" hilang tadi, tiba-tiba... TAK TAK DUK DUK DES. Aku melihat secuil bayangan (halah), alias sehelai, selembar, sebuah, atau seapapun itulah,kertas tanda buktiku yang hilang !!. TA DA !! Akhirrrrnyaa. Hufff.. Waktu aku buka tuh kertas sialan, aku melihat stempel2 nya yang membuat mataku langsung kinclong, kayak ketemu Titi Kamal lah. Seneng bukan main lah. Langsung aku sujud seketika itu pula. Legaaa rasane. Dasar Wong Jowo tenan, sudah sial, masih adja untung.

Yah, walaupun sudah mengorbankan satu buah kuliah pada hari naas itu, tapi akhirnya tetap lega. Kalau ada lagu Cinta ini Membunuhku, aku bakalan mengganti dengan Kertas ini Membunuhku. Pancene...!1


-Every man suffers pain, either the pain of hard work, or the pain of regrets-

Senin, 08 September 2008

Seolah-olah Happy, Padahal Memeti

wah, lumayan. Mumpung punya kesempatan buat nulis-nulis, sekarang pengen berbagi macem2 kisah lagi,ah. lumayan, selain bisa nambah isi blog baru ( alias kemaruk), pengen juga pamer ke temen2. Malu donk kalo dipamerin tapi nggak ada isinya.

Ngomongin tentang malu, ko kayaknya aku masih malu-malu dikerjaanku ini ya. Padahal kalo dihitung-hitung, aku udah aga lama. Yah, boleh dibilang bukan anak baru lagi sih. Tapi tetep aja perasaan untuk berbuat sesuatu itu masih dihinggapi sama perasaan sungkan. Aslinya sih, justru di tempat kerjaanku ini dituntut untuk berperilaku malu-maluin. Tapi yang kreatif pastinya. Yaweslah
.
Tapi, mau sampai kapan ya aku harus kayak begini. Mending aku keluar aja ??, Eits, tapi itu bukan pilihan yang bagus juga. Mau menghindar, ngga bakalan bisa. Bisanya cuma satu aja, membuat semua jadi enjoy dan menyenangkan. Tetep fokus, yang penting. Kayak kata "sebuah" mbak di tempat kerjaan ini, fokus itu ketika kita liat komputer, yang dilihat bukan hanya LCD,Keyboard, atopun CPU nya aja, tapi keseluruhan. Dan bukan dari satu sisi aja, tapi dari keseluruhan sisi. Biar tahu apa bentuknya, apa gunanya, bahkan sampai darimana itu berasal. Focus is the first lesson

Cukup sini aja, bentar dulu. berikutnya akan ada lesson-lesson menarik lainnya.
- be your self-

Kenapa Harus Mengeluh Sih ??

Kadang ada beberapa orang yang dalam hidupnya kerjaannya mengeluh melulu. Yang kerjaannya ngga enaklah, yang gajinya nggak naik-naiklah, ato keluarganya yang berantakan. Orang itu seharusnya sadar, kenapa Tuhan memberi itu semua. Kadang, aku juga nggak nyangka, ada juga orang yang cuma bisanya menuntut. Dan itu pasti diawali juga lagi-lagi dengan mengeluh.
Aduh,Halah,Ah, dan kata-kata yang lain yang sering diucapkan sama si pengeluh tadi. Belum tahu dia, kalo Tuhan sudah bosen mengurus dia, bakal dicabut keseluruhan tentang dirinya. Padahal juga, Tuhan itu nggak kurang-kurangnya memberi nikmat yang turah-turah.
Yah, semua itu memang ada hikmahnya. Kadang kita berbicara A, Tuhan ngasihnya B. Ato kita minta E, Tuhan ngasihnya angka 8. Tapi ya itu lah Dia. Sang Pencipta. Nggak ada yang bakal tahu apa yang bakalan terjadi di kemudian hari. Mudah-mudahan kita diberi pemaknaan yang tepat, kenapa koq ini semua terjadi kepada kita. Kita nggak usah minta pun, Tuhan tetap ngasih hal yang paling baik buat kita. Cuma kitanya yang memang benar-benar harus mengerti kenapa Tuhan memberi kita "SESUATU" .

Powered By Blogger