Sabtu, 02 Januari 2010

No Sequel


Saya sudah memilih. Mengakhiri romance movie dengan Good Bye My Lovers-James Blunt sebagai soundtrack akhirnya. Tidak ada sekuel, dan terimakasih sebesar-besarnya untuk “mu”

Satu resolusi terbesar di tahun baru kali ini sudah dibuat. Setelah melewati finishing touch yang cukup panjang, saya berani umumkan one big change in my rail. Saya nggak akan nodai awal, tengah, dan akhir tahun dengan nyebut-nyebut semua hal tentang kamu lagi. Its just another bullsheet. Even gelandangan pun sudah jijik sama kisah pilu itu (dengan tanduk keluar).

So sorry for my heart. Karena dengan mikirin kamu, saya jadi kehilangan waktu bersenang-senang dengan orang-orang terbaik di hidup saya. Padahal bercandaan sambil duduk berdua mereka jauh lebih berharga ketimbang harapan semu ini.
Saya sadar bahwa teman-teman saya juga sudah eneg saat saya ajak ngobrol tentang kamu. Cuma karena saking baiknya mereka aja mereka mau buka kuping dan pegel angguk-angguk kepala sepanjang hari soal kamu.

Nggak ada lagi pencet-pencet keyboard tentang kamu. Nggak ada juga hujan air mata haru biru setelah baca statusmu. Dan soal posting-posting murahan hal yang itu-itu lagi di blog, i wish i could drink a forgetful potion before that.

Setahun lalu, aku masih mikir jurus pamungkas ngelupain kamu. Tahun lalu, aku menodai diariku dan diari temen-temenku saat kamu terlintas di pikiranku. Lembaran-lembaran itu sudah aku sobek. Remetannya sudah nggak tau di depo sampah kota mana.
Aku bahkan harus berguru sama keledai, supaya nggak ngulang kesalahan lebih dari dua kali. Who knows, itu bisa jadi sekoci penyelamat di saat-saat pikiran itu muncul.
Yang pasti di tahun ini, sudah nggak ada rencana untuk bikin sekuel blog tentangmu ini. Biarin, biar produser punya dana ratusan milyar dan casting sudah berjalan. Tapi aku nolak mentah-mentah, kalau perannya masih kamu dan aku. Kalau poster filmnya masih ada foto kita berdua dan penonton setianya masih temen-temen kita sendiri. Penonton yang sudah bolak-balik masuk adegan karena kebaikan dan kemauan mereka duduk diam dengerin cerita ini.

And I still hold your hand in mine.
In mine when I'm asleep.
And I will bare my soul in time,
When I'm kneeling at your feet.
Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me

Good Bye My Lovers – James Blunt

Selasa, 29 Desember 2009

Persepsi Model Suka-Suka


Ibu saya tadi siang pergi jalan-jalan dengan kakak-adiknya. Pas pulang, beliau nggak cuma membawa sekotak nasi resto Jepang favorit saya, tapi juga oleh-oleh cerita paling lucu bin djayus yang pernah saya dengar. Begini transkripnya:

Siang hari, di salah satu depart. store tersohor di mall pusat kota Surabaya.

Kakak : “Dek, aku nemu celana bagus! Harganya seratus tiga,” tergopoh-gopoh
sambil menenteng celana hitam merk kelas atas .
Adik :”Oh,ya? Di mana? Mau, dong!.”
Kakak: “Itu, di keranjang sebelah kasir. Udah, ambil langsung bayar sekalian!,”

Ala semangat juang ‘45, adik tadi langsung ngambil tiga celana sekaligus. Lantas, ditaruhnya tepat di atas meja kasir. Ketika ditotal, dia sport jantung! Di komputer, tertera tiga ratus sembilan ribu rupiah. Ya, tiga digit nol di belakang angka 309.
Merasa ditipu mentah-mentah sang kakak, si adik langsung cancel semua pembayaran. Dia lari ke kakaknya sambil protes bak ibu-ibu demo gusuran rumah.
Adik:”He, apa itu?! Katamu harganya seratus tiga,”
Kaka:”Lho, bener, tho!. Maksudku seratus tiga ribu an. Kamu kira?”
Adik:”Seratus dapet tiga,”
Kakak:”Hah?!”

Ada tiga hal yang paling penting untuk dibahas di sini.
Dari jaman kuda gigit besi (sekarang kuda jingkrak di kap mobil), kacamata dan orang minus adalah soulmate yang lebih erat dari Romeo-Juliet. Mulai 2003 lalu, tante saya memang kurang di penglihatan. Kok ya, kebetulan ketika itu, tante saya apes. Kacamata absen di tasnya. Tapi itu faktor kedua.

Selanjutnya, saya berani ngasih dua jempol untuk keberanian beliau. Belum tentu satu diantara dua ratus orang berani membatalkan transaksi yang nyaris klimaks di kasir. Depart. store kelas satu, pula!. Prinsip sebagian orang, mau ditaruh di mana mukanya. Prinsip tante saya, uangnya mau turun dari langit tingkat berapa. Dan itu faktor yang terakhir. Faktor utamanya? And the oscar’s goes to...

Yup, that’s right! It’s all about PERCEPTION.

Dunia bisa kacau balau galau dan berbalik 540 derajat aman tentram hanya gara-gara “itu”. Persepsi kadang mengharuskan kita untuk stag di satu titik pandang. Bukannya kita kadang ngerasa pendapat kita paling betul? Padahal, yang betul adalah persepsinya, bukan faktanya. Masih bingung juga? Okei, saya cerita satu kisah menarik lagi.

Tadi sore, saya buka blog salah seorang teman sekelas di perkuliahan. Menurut kesepakatan bersama (anak seangkatan, lho), dia ini anak yang anti-social. Saya tidak mau nulis biografi tentangnya, mangkanya nggak saya selidiki asal muasal kehidupannya. Mungkin, dia ini reinkarnasi Vionna-nya Shrek, tumbuh sendirian di menara dikelilingi naga ganas. (amit-amit *ketuk meja*)

Di blognya, dia menulis semua keluh kesah. Mulai dari kelompok kuliah, dosen, teman, hingga prince charming-nya. Sayang seribu sayang, semua yang dia tuturkan (allow me to do stupid analysis) muncul hanya dari persepsinya belaka. Dan semuanya, negatif!.
Seperti yang diatas tadi, saya abstain soal latar belakang keluarganya. Bisa aja, dia lahir di keluarga yang baik-baik (but not broken home). Tapi dia dibesarkan dengan cara yang salah. Metode hukuman misalnya. Tapi anehnya, saya nggak pernah lihat bekas cambukan di badannya. Berarti, salah. Tet tot...

Bisa jadi, dia tumbuh di keluarga broken. Atau malah broken society. Maklum, latar belakang suku dan ras sudah jadi rahasia umum. Konon, orang yang berasal dari pulau garam, katanya, sih, beremosi lebih tinggi. Efek garam-darah tinggi? Bisa jadi. Tapi, dia hobi pakai baju warna pink (sebagian orang, pink dianggap representasi gadis manis nan imut). Blog nya pun didominasi pink.

Memang, gimana isi blognya?

Mari kita urai satu-persatu. Di salah satu tulisannya, ia mencurahkan semua keluh kesahnya pada salah seorang anggota kelompok mata kuliah. FYI, mata kuliah itu termasuk penting. Bayangin, ketika dosennya masuk, semua mahasiswa nunduk. Padahal, yang dosen tadi bawa adalah literatur yang tebelnya dua ratus halaman. Nah, gimana kalo yang dibawa kepala manusia berdarah-darah, ya... LoL!

Nah, si partner ini bandelnya amit-amit. Disuruh ngerjain tugas, malasnya minta ampun. Disuruh bayar ongkos cetak print, nunggu gajian bulan depan. Itu pun nunda bulan-bulan berikutnya dengan ending tragis, no payment. Ketika janjian ngerjain tugas paginya, dia bahkan berani absen tanpa konfirmasi.

Padahal, lagi-lagi versi teman saya ini, BFF-nya ini mulai ngedeketin pas awal perkuliahan. Hangout berdua. Pas weekend tiba, mereka suka ngerjain tugas. Ujung-ujungnya, si partner ini malah nawarin temen saya gabung di MLM rintisannya. Luar biasa!. MLM ini mengharuskan anggota baru untuk membayar dua juta. Tentu teman saya ini keberatan.

Sejak itu, mereka renggang. Bikin tugas bareng pun ogah-ogahan. Satu ngerasa sudah SMS job desk satunya. Tapi satu lagi berkilah SMS itu baru nyampe malemnya. Makalah kelompok pun berantakan.
Nah, dimana salahnya?

Teman saya ini, menganggap dunia sama persis denagn apa yang dialaminya. Mengganggap bahwa setiap orang tua memberi uang saku pada putri kecilnya (kilah agar temannya membayar). Menganggap report SMS (kasus SMS tugas yang telat tadi) selalu jujur. Dan parahnya, semua orang di sekelilingnya membencinya. Bahkan, dia menganggap dalam teamwork di setiap kerja kelompoknya, hancur berantakan akibat ulah kami-kami ini yang tak sepaham dengannya. Persepsi suka-suka. Aku suka kalau kerja kelompok aku yang nentuin alurnya. Aku suka kalau tugas diberi individu. Aku suka kalau bla bla bla.

Mungkin, ini bisa menjadi refleksi sekaligus relaksasi buatnya. Mudah-mudahan, ia nggak lagi jadi pecundang yang sering dibantai dosen di kelas akibat sok tahu soal bahasan baru... Jika DetEksi bisa membuat logo We Love DetCon, kami masih membuka pintu dan bersuara We Still Love You. He he he..

Man Who Cann’t Be Moved


“Dibutuhkan satu menit untuk hancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, dan satu hari untuk mencintai seseorang. Tapi, butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang...” -Anonim-

Sudut jalan 5th Avenue New York, Amerika Serikat. Pemuda itu masih saja setia berdiri di sana, ditengah salju yang seminggu ini membayangi kota itu. Gayanya gelisah dan tak sabaran. Melongok ke kanan-kiri. Setiap ada mobil, ia perhatikan siapa pengendaranya. Oh, bukan!. Ternyata bukan seseorang yang ia tunggu hampir belasan bulan ini. Ia pun masih setia bersandar di tembok kumal yang sudah mengelupas catnya sana-sini. Karena di tempat itu pulalah, dia berkenalan dengan seorang gadis. Gadis yang membuatnya tak tidur bermalam-malam.

Setiap orang yang melewatinya selalu diberi pertanyaan yang sama.
“Pernah kau melihat gadis ini?” ujarnya sambil sodorkan sebuah foto kusut.
Begitu lemah dan hampir menyerah. Semangatnya tinggal separuh. Namun, ia masih bisa berpesan pada setiap orang tadi. Ia minta, saat mereka bertemu gadis yang difoto itu, tolong katakan dia berbulan-bulan di sini untuknya.

Beberapa orang mencoba memberinya uang. Mereka kira ia pengemis renta dari kota sebelah. Uang-uang tersebut dilemparkan di depan kakinya. Mereka tak pernah mengerti, bukan uang dan harta yang ia tunggu. Tumpukan uang itu dianggapnya angin lalu. Ia berdiri di sudut kesayangannya itu hanya untuk melihat pujaannya datang.
Malam tiba. Gadis itu tak kunjung datang. Kepala pria itu masih menjulur mengamati ujung gang-gang di sekitarnya. Rambutnya semakin acak-acakan, tertimpa salju yang jatuh di atas kepalanya. Kakinya tak kenal gontai meski ia masih rela berdiri di kelilingi raksasa-raksasa beton. Sayang, tak satupun orang yang berperawakan mirip dengan first love-nya itu.

Seorang polisi tua menghampirinya. Polisi itu sudah hapal benar maksud dan harapan kosong pria itu. Dalam benaknya, ia selalu bertanya secantik apakah gadis yang ia tunggu. Bahkan ia, yang juga teman akrab pria tadi, sudah putus asa. Lidahnya masih memberikan petuah bohongan. Ditepuknya pundak pria tadi. Semangat “palsu” dan harapan buaian masih berulangkali diucapkannya.

“Mungkin, ia masih di jalan,” bisiknya. Motivasi itu dibalas anggukan kecil pria malang itu.

“Biarlah. Dari sudut ini, aku akan tetap menunggunya. Aku takkan berpindah. Aku takut, jika suatu saat ia mencariku dan aku tak ada di sini. Cinta hanya punya satu kesempatan,” balasnya. Bersama anjingnya, polisi itu lantas pergi meninggalakan teman beserta harapan kosongnya itu.

Gosip tentang pria tadi mulai merebak. Dimulai di satu blok, menyebar ke blok lainnya. Seisi kota pun kini mendengar kisah lelaki itu. Pria itu mulai populer. Bak semut ketemu “gula”, media pun berduyun-duyun meliputnya. Wajahnya ada di mana-mana.
Kesempatan itu ia pakai untuk mencari pujaan hatinya. Sambil melompat-lompat kegirangan, pria tadi menunjukkan foto sang pujaan di depan kamera. Foto yang sudah kusut dan tak jelas objeknya itu terpampang jelas. Seluruh Amerika tahu kecantikan gadis itu.

Satu persatu reporter mulai bergantian meliputnya. Wawancara dengan mik disodorkan dimuka membuatnya tak nyaman. Kilatan kamera menyapu noda kumal di wajahnya.
“Apa yang kau harapkan?” tanya salah seorang di antara mereka.
“Hanya gadis ini. Tolong, jika kau melihatnya, beritahu aku. Dan kalian, para wartawan, tolong katakan padanya. Jika ia berubah pikiran, maka tempat ini adalah tujuan pertamanya,” balas pria itu.

Hari ke hari, mereka mulai menyiarkan berita itu. Namun, tetap saja tak ada kabar. Tak satupun bayangan sang pujaan muncul di hadapannya. Semangat pria itu masih tak luntur. Ia pun masih setia berdiri di sudut kesayangannya itu. Tersiksa sendiri.(*)

YANG TIDAK BISA DIUCAPKAN PAPA


Tulisan ini adalah copy-paste belaka. Seseorang yang hebat telah menorehkannya di FB.

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan... mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama yang lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari. Tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang bekerja dan dengan wajah lelah, Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!". Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam. Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang". Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.


Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!" Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang" Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa
pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk... Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....



Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Meskipun tulisan ini lebih diperuntukkan pada anak perempuan, bukan berarti tidak ada makna bagi anak laki-laki. Inilah sesungguhnya bapak kita yang kadang kita benci.
Apakah kalian mempercayainya ?
Tulisan ini jauh akan lebih berharga jika kalian menyebarkan kepada kawan-kawan lain..

I love you dad....
Hanya ini yang saya bisa katakan. Meskipun aku belum bisa membanggakan dan membahagiakanmu, sebagai anakmu, aku akan tetap berusaha..

Rabu, 02 Desember 2009

Kupu-Kupu Malam

Pengalaman bekerja di DetEksi Jawa Pos menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Di kantor yang jam bukanya melebihi gerai fast food 24 hours tetangganya itu, saya belajar segalanya. Bukan hanya hard skill maupun soft skill. Namun, juga belajar, tentang bagaimana cara belajar yang benar.

Sama dengan pekerja yang lainnya, saya memulai karir sebagai “tukang” polling. Pekerjaannya terbilang mudah, sih. Cukup membawa kembali lima puluh kuisioner yang sudah diisi oleh sekitar lima puluh siswa SMA maupun SMP di Surabaya. Percaya tidak, tak ada yang mengalahkan asyiknya berkeliling kota. Apalagi bertemu dengan anak-anak muda makin membuat saya, yang mendapat julukan muka boros ini, berjiwa muda.

Setahun pertama di sana, saya diberi kesempatan mengikuti latihan penulis. Dan hasilnya, voila!. Saya menjadi penulis dua bulan kemudian. Di saat yang sama dengan beban semester tinggi (semester 4 ke-atas), saya masih harus berkutat dengan deadline tiap harinya. Celoteh pedas editor menjadi santapan sehari-hari.

Semenjak itu, saya merasa ada perubahan drastis. Khususnya pada otak dan perasaan saya. Dulu, saya sering mencampuradukkan pikiran dan perasaan. Terkena masalah sedikit, yang berperan malah hati. Semenjak menjadi penulis, yang mengatur adalah otak. Nah, biar lebih sopan, mari kita gunakan bahasa cerebrum. Setuju? He he.

Cerebrum diciptakan untuk mengirimkan sinyal dari dalam menuju ke luar otak. Fungsi sinyal ini adalah sebagai perintah untuk memerintahkan anggota tubuh lain bekerja sesuai keinginan cerebrum. Mengetik esay ini, misalnya, adalah sinyal yang dirintis oleh cerebrum menuju ujung jari. Bisa dibilang bagian atas, yakni cerebrum, memegang kendali

Dulu, saya termasuk orang dengan cerebrum pas-pasan. Sebelum masuk DetEksi, kantor sinting itu, saya menerapkan prinsip kupu-kupu. Kuliah Pulang Kuliah Pulang. Semenjak berada di sana, saya merasa ada suatu hal yang lebih excited ketimbang kupu-kupu. Apa itu? Jawabannya adalah kupu-kupu malam. Kuliah pulang malam, kuliah pulang malam.

Maksudnya, pindah ke perguruan tinggi yang menawarkan kuliah malam? Bukan!. Tapi setelah kuliah di siang hari, saya bekerja malamnya. Terkadang pulangnya pagi hari, mengalahkan orang kulakan ke pasar. Status itu masih berubah terkadang, belum sering. Walau ketika DetEksi sedang menggelar event, dan biasanya skala besar, saya dan “keluarga baru” di kantor itu mendapatkan jatah lembur habis-habisan. Bolehlah dibilang standar saya naik perlahan.

Dari yang semula mahasiswa yang berkutat tugas dan elemen lain seperti teman, menjadi seorang pekerja yang dituntut output bagus oleh atasan. Yang semula berleha-leha jika malam tiba, menjadi pasukan antimalas di kantor. Dan ini yang terpenting. Dari yang semula berjatah liburan tetap di akhir minggu, menjadi orang yang multi tasking saat weekend tiba.

Luar biasa.
Saya berterimakasih pada tantangan tersebut. Tanpanya, saya bukan apa-apa. Tanpanya, saya masih mahasiswa berstatus nasakom (saat itu, IP sempat jeblog. Penyebabnya tidak pandai membagi waktu), menjadi mahasiswa bertitel lumayan. IP, alhamdulillah, meningkat. Dan pesat. Rupanya, penempaan dua tahun tersebut membuahkan hasil.

Hasil tersebut tidak main-main. Ini masih konteks berusaha. Saya sekarang berusaha untuk menjaga agar standar saya tidak merosot. Biarlah digojloki teman sekitar manusia super sibuk. Tapi, saya percaya, tantangan berpenampakkan kesibukan ini adalah jalan peretas masa depan yang cerah.

Jumat, 27 November 2009

Ikatan Batin Terpendam


Sahabat cewek saya mengirimkan sebuah SMS tadi sore. SMS itu bernada tawaran magang di salah satu kantor search operator legendaris di Indonesia. Tawaran itu sudah diajukannya semenjak saya masih berancang-ancang keluar dari kantor lama.


Dia bilang, saya bakal punya banyak dan banyak sekali waktu untuk menggeluti aktivitas padat macam magang ini setelah mengundurkan diri dari kantor, tempat mengabdi dua tahun belakangan.


Saya pikir dia benar. Teman dekat saya sejak tiga tahun silam itu memang pernah bekerja di kantor yang sama dengan saya. Jabatannnya pun sama. Meski “cuman” bergelar penulis, namun saya berani kasih empat jempol untuknya.


Dia tak perlu berjuang keras untuk meniti karir di sana. Saat SMA, dia pernah memenangkan salah satu kompetisi gelaran kantor saya. Selepas masa abu-abu, dia pun ditawari untuk bekerja di sana. Beda 540 derajat dengan saya. Harus memutar otak semalam suntuk, mengarang tampilan CV agar bisa memikat petinggi kantor. Walau akhirnya, kelihaian menjawab dan performance saat tes wawancaralah yang menentukan kami. He he he.


Tawaran magang itu membuat saya bergumam. Mampu apa, mengalihkan perhatian dari kantor yang jam bukanya mengalahkan restoran cepat saji 24 hours di sebelahnya, menjadi pegawai berlabel magang yang lebih mirip siswa SMK. Ups, maaf, but that’s fact. Bukannya merendahkan, tapi kerjaannya pun belum pasti. Ranahnya yang berbeda pula.


Semula bekerja di media, kini public relations magangan. Semula bergelut dengan naskah dan deadline, sekarang harus berani maju dengan strategi komunikasi organisasi jitu. Sama-sama bakal berurusan dengan koran, sih. Tapi dulu, saya menjadi salah satu pengisi rubriknya. Nanti, menjadi pengamat koran yang lebih mirip pengangguran. Mencari berita apa yang menyangkut perusahaan tempat saya bakal naungi. Yang bagus, hingga jelek, atau bahkan jelek sekali,


Bukan!. Saya bukan seperti kucing melihat air saat ditawari magang di situ. Justru, beberapa pertanyaan menggelitik muncul di benak saya. Apakah pekerjaan ini bakal semenantangnya saat saya bekerja di DetEksi. Apakah saya akan mendapatkan keluarga dan bukan rekan kerja yang egois dan bekerja dengan gaya katak, tendang kanan-kiri demi kenaikan pangkat.

***

Bekerja di DetEksi, seperti saya bilang tadi, berawal dari sebuah feeling. Yang merasa punya nyali, dia yang mengirimkan CV. Yang merasa keren, dia yang berusaha lolos tes tiap tes. Yang pengin maju, dia yang bertahan ketika event berat berjalan. Dari situlah timbul seleksi alam untuk melihat siapakah yang sanggup berpegangan pada prinsip awal, atau tidak.


It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word


` Dan saat event itu semakin tumbuh, berkembang ke segala arah, kami pun ada di dalamnya. Setiap orang masing-masing ikut tumbuh dewasa bersamannya. Nggak ada ceritanya, satu orang ngedumel sendiri dengan masalahnya. Yang ada, sebuah forum kecil bersama teman-teman yang selalu menyelamatkan kami. Entah dari persepsi buruk tentang siapapun (terutama atasan) atau bahkan kepenatan saat kerja.


And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Perjalanan saya memang sudah berakhir di sana. Di tempat yang saya idamkan selama masa putih abu-abu, saya berusaha untuk mengabdikan pikiran, jiwa, sampai perasaan. Di sana pulalah, saya belajar banyak. Bahkan juga belajar untuk belajar yang baik dari seseorang tentang sebuah ilmu yang bagus.


Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war


Berarti, saya boleh simpulkan, ada sebuah ikatan batin antara saya dengan mereka. Antara saya dengan kantor yang luasnya empat kali rumah saya itu. Bahkan, antara saya dengan setiap komputer di dalamnya. Karena setiap hari saya dan keluarga baru saya itu, berkutat dengan hal-hal itu saja.


Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
`


The Call by Regina Spektor,

-OST Narnia Prince Of Caspian-


Berarti, saya tidak butuh kata berpisah dari mereka. Wong, saya masih “cinta” dengan kantor itu. Cuma caranya saja yang berbeda dengan mereka yang masih setia di sana. (*)

Minggu, 08 November 2009

Welcome Abroad !!!

Amplop coklat itu penuh sudah. Di dalamnya, terdapat satu lembar surat lamaran kerja, beberapa lembar fotokopi identitas diri, serta sertifikat beberapa kompetisi dan piagam yang pernah saya renggut. Semuanya saya tata rapi, dengan urutan yang membutuhkan dua kali waktu berpikir. Sudahkah semuanya sempurna.

Amplop itu lalu saya titipkan pada salah seorang sahabat SMA. Sebut saja Rina namanya. Ia sudah bergabung di kantor itu, tiga bulan sebelumnya. Dia pula yang membantu saya dengan merekomendasikan pada pucuk pimpinan. Ya, semacam refrensi halus dari bawahan.

Disana, ia bercerita, tempatnya asyik. Isinya muda-mudi semua. Anak-anaknya gaul. Bukan itu saja. Semuanya rame. Bahkan, paling ramai diantara seluruh ruangan di dalam kantornya.

Dalam hati, saya bergumam, saya akan menjajal untuk menjadi salah satu dari mereka. Berarti, sisi antusias, kreatif, ulet, dan tetek bengek yang berkaitan dengan rajin, harus dikeluarkan. Seenggaknya, begitu prinsip awal ketika memasuki “belantara”.

Besoknya, saya langsung interview. Untuk menguji kemampuan pelamar, di dalamnya juga ada tes tulis dkk. Di tes interview, saya diwawancarai oleh total delapan petinggi perusahaan tersebut. Ya, itu rintangan pertama. Beberapa diantaranya karismatik. Itu ujian kedua. Bisa-bisa, saya malah terjegal karena pancaran karismanya. He he.

Tapi, dewi fortuna masih dipihak saya. Saya lolos seleksi pertama. Saya bangga. Berarti, one step closer untuk menjadi salah satu dari kumpulan otak-otak cerdas.
Memasuki seleksi kedua, saya dihadapkan oleh tes lapangan. Singkat cerita, kantor tempat saya lamar adalah sebuah harian anak muda. Setiap hari selalu mengupas topik yang menarik. Nah, biar seru, halaman tersebut mencari pendapat ratusan anak muda tentang topik tersebut. Caranya? Lewat kuisioner yang dibagikan.

Kembali pada tes kedua. Tes ini diadakan di salah satu mal di pusat Surabaya. Rules-nya begini: masing-masing peserta diberikan beberapa kuisioner. Kuisioner tadi harus diisi oleh anak SMA, yang seluruhnya harus duduk di foodcourt mal itu. Mau saya garis bawahi? Ya, harus berada di foodcourt itu.

Ini termasuk sulit. Waktu yang diberikan hanya dua jam. Setelah itu, kami diharuskan kembali ke kantor. Bagaimanapun caranya, terlambat setengah menitpun bakalan jadi mimpi buruk bak telat saat UNAS.

Jangan bayangkan anak-anak SMA berkeliaran di foodcourt. Hari itu bertepatan dengan ujian serentak di seluruh SMA di Surabaya. So, Excatly ! Hanya pelajar setengah edan yang memutuskan untuk belajar di tengah keramaian foodcourt plasa. Tak apalah, pikir saya. Toh, tekad saya untuk bergabung sudah bulat.

Ujian tersebut benar-benar rintangan yang berat kala itu. Kami yang masih buta soal kertas kuisioner, keberatan. Alhasil, paling banyak, satu anak hanya mendapatkan sepuluh respondet. Itu pun tiga diantaranya tak valid. Dan tebak, berapa dari kami yang berhasil tepat waktu tiba di kantor? Hanya satu orang. Poor me, orang itu bukanlah saya.

Sesaat setelah tiba, kami dikumpulkan di sebuah ruangan. Disitu, kami, yang waktu itu bersepuluh, diinterograsi kecil-kecilan tentang kebulatan tekad untuk bekerja di sana. Masing-masing peserta pun menunduk. Seolah-olah sedang disetrap karena nilai ujian jeblog.

Si penginterograsi, yang kebetulan salah satu petinggi, mengatakan tentang hal-hal buruk kedepan. Ada banyak halangan yang merintangi kami. Baik dari internal, such as kemalasan dan kebosanan, dan parahnya, eksternal. Kalau dari eksternal, ada orang tua dan teman-teman sekitar. Maksudnya, apakah semua halangan tadi benar-benar sudah lenyap? Kalo iya, itu berarti kami siap bekerja di sana. Dan pertanyaan itu pun terjawab tiga hari kemudian.

Saya dan sembilan orang peserta lainnya dinyatakan lolos seluruh seleksi. Oh God, kami berhasil mendapatkan tiket emas itu!. Dalam seumur hidup, itulah masa-masa dimana saya merasa bak menang di Olimpiade fisika internasional. Kemenangan ini yang akan membawa saya menuju sebuah babak baru. Babak dimana saya, dan seluruh waktu saya akan dihabiskan di sebuah kantor yang bernama DetEksi Jawa Pos.

Confession Of A Workaholic




Siang itu, kaki berhasi diajak kompromi untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan komputer terlengkap di Surabaya. Letaknya di pusat kota. Semua orang,rakyat bangsa IT dan komputer, sudah khatam tentang tempat “peribadatan” mereka ini.

Tujuan awal, survei charger notebook. Kebetulan, notebook saya mati suri. Mulai tiga hari lalu, lappie saya kehilangan antibiotik-nya itu.

Sampailah saya di depan etalase toko yang juga tempat membeli lappie itu. Rupanya, toko itu tak banyak berubah. Di etalasenya, puluhan komputer jinjing masih terpajang rapi. Dan dengan papan harga yang masih bisa dibikin shock therapy. Harganya berlipat-lipat gaji bulanan saya.

Tiba-tiba, suatu pemandangan tak sedap dipandang muncul di sebelah saya persis. Si bos toko, yang kebetulan etnis Tionghua, menyuruh anak buahnya, etnis Jawa tulen, untuk mengelap kaca etalase. Spontan, terdengar kasar.
Nadanya tinggi. Mungkin bagi saya yang terbiasa hidup di “belantara deadline”, terbilang tegas. Tapi mbak-mbak tadi justru menerjemahkan dengan ekspresi kesal.

Oleh mbak-mbak tadi, kaca etalase dilapnya rapi. Tapi dengan alis terpaut. Gerakannya asal-asalan. Bibirnya komat-kamit (sambil melafalkan mantra, kali ya). Parahnya, topik etnis selalu menjadi background umpatan masyarakat pribumi. Tak terkecuali, si mbak penjaga toko tadi.

Saya yang berdiri di sebelahnya cuma bisa menyemangatinya dengan kata “Sabar, mbak”. Errr, mbak-mbak tadi malah tambah kesel. Dia malah makin kenceng muter-muter lap basahnya itu.

Huh, saya baru saja bertemu karyawan paling aneh. Apalagi pas saya tinggal pergi, mbak-mbak itu malah balik ngerayu. "Lho, mas, mau kemana? Sini aja, temenin saya," katanya sambil senyum-senyum nggak jelas. Jiaaah....

Satu senyum simpul untuk mbak tadi, ribuan makna di kepala untuk kejadian barusan. First thing first, saya kepikiran. Apa ada yang salah dengan ucapan bosnya. Atau saya yang terbiasa dijejali ocehan editor yang kadang begitu pedasnya (minum air segalon nggak bakal mempan), walau akhirnya membuat standarisasi akan kebagusan naskah kami menapak perlahan?.

Saya sempat mengrenyitkan dahi. "Keluarga" saya di kantor, sangat dan sangat bisa menganggap remeh suruhan si bos tadi. Ya jelaslah, karena mereka terbiasa dengan cambukan verbal. Mereka menjadi sosok yang kuat lantaran terbiasa dikejar-kejar deadline apapun.

Saya salut. Bahkan, sesosok sahabat masih sanggup menebar pesona setelah uang makannya terpaksa disunat. Waktu itu, spanduk orderan si bos belum kelar.

Lantas, pusing berapa keliling mereka? Not at all, mbak!.

Mereka paham, kalo dimarahi, standarisasi kemampuan kita bakal meningkat. Apalagi, amarah itu sifatnya sementara. Objektif, pula. Belum pernah sepanjang perjalanan di gedung biru itu, saya dengar atasan membentak sambil ngungkit kebiasaan yang dibentak. Semuanya berbasis pekerjaan yang dilakoninya.

Jadi teringat celoteh supervisor saya. Orang masuk dunia kerja punya standar segini (sambil menyodorkan tangan kanannya). Kalau dimarahi (memukulkan tangan kanannya itu dengan tangan kirinya dari bawah), standarnya bakal naik. Berulang dimarahi, berulang pula standarnya naik. Tujuannya satu. Supaya standarisasi bagusnya pekerjaan kita semakin naik.

Menurutku, standar mbak tadi masih tersungkur di lantai terdasar. Bahkan mungkin, basement.

She’s work with pressure, not plesure.
Work with plesure...

Yap, itu angel yang pernah diangkat mantan koordinator editor saya di blog pribadinya. Bekerjalah dengan penuh kesenangan, dan uang yang bekerja untukmu. Bekerjalah dengan penuh keluhan, maka uang akan menguap bersama keringatmu. Idiom unik nan menarik inilah yang membimbing saya, dia, dan mereka (keluarga di kantor) menjadi orang-orang tangguh. Honestly, saya bangga berkeluarga mereka.

Saya tak ingin menggurui siapapun. Bahkan diri sendiri. Hanya ingin membagikan pelajaran bermakna. Saya tahu persis, suatu saat akan menjadi sosok seperti seperti mbak tadi. Mengernyitkan dahi ketika dimarahi. Tapi, bukanlah itu hal yang wajar?. Percayalah, kita akan mengernyitkan dahi pula. Bedanya, dia mengelap kaca berukuran 4x3 meter, keluarga saya sudah mengerjakan even basket taraf internasional paling bergengsi se-Indonesia.

Believe me, it’s just another confession of a workaholic!!.

Sabtu, 28 Februari 2009

Tolong Pukul Saya

Seorang touris dari Australia yang baru 3 hari mengunjungi Indonesia ingin melihat Borobudur.

Selama tinggal di hotel sederhana di Yogya ditemani seorang guide dari Indonesia, dan belajar bahasa Indonesia. Mulai dari cara bertanya "pukul berapa berapa? Harganya berapa?"

Suatu hari mereka pergi ke Borobudur naik bis murah meriah turunnya di terminal kumuh yang padat dan semrawut.

Tiba-tiba siTuris berteriak "Pukul...Pukul....Pukul saya," sambil menunjukkan ke pergelangan tangannya.

Si Guide dan orang sekitar pada bingung. Setelah tau rupanya yang dimaksud pukul adalah Jam tangannya yang telah dicopet.
Sent by: Rahula Nursyah Candra on Feb 26th, 2009 | Rate it and send to friend

Sekarang Lebih Berani

Sakit gigi membuat Joko sangat tersiksa. Tapi ia sangat takut dengan jarum suntik dan peralatan dokter gigi. Karena sudah sangat tak tahan, akhirnya Joko nekad pergi juga.

Dokter menjelaskan bahwa gigi gerahamnya harus dicabut. Ketika akan disuntik, Joko berkata,"Dok tolong jangan disuntik, saya takut dok!"

Tahu Joko takut, dokter menawarkan segelas bir untuk diminumnya agar rasa takutnya bisa berkurang. Lalu si dokter berkata,"Bagaimana, anda sudah lebih berani sekarang?"

Joko menjawab,"Benar. Sekarang saya merasa lebih berani. Siapapun yang menyentuh gigi saya akan tahu akibatnya!!!"

????!!!!!??

Ketawa, Yuk.

Murid Kelas 1 SD Belajar Peribahasa
Category: Humor Umum
Di kelas 1 SD Seorang guru bahasa Indonesia sedang mengajarkan pelajaran tentang peribahasa.

Guru : "Anak-anak, apa lanjutannya peribahasa ini... 'Biar lambat asal......' "

Anak-Anak: "SELAMAAAAAAT, PPPAAAAKKKK!"

Guru : "Betul.. seratus buat anak-anak, sekarang peribahasa selanjutnya 'Lain padang lain belalang.....?' "

Anak-Anak: "LAIN LUBUK LAIN IKANNYA PPPPAAAAAKKKK !!!!!"

Guru : Pinter kalian! Sekarang apa lanjutannya.... 'Guru kencing berdiri...?'

Anak-anak: "SIAPA YANG MAU LIAAAAT !!!!!!!! EMANGNYA KAMI HIDUNG BELANG...HUUUUUUUU !!!!!"

Guru : ^#^#@^$@!@%$#^$&%*%&$##!!!!

Senin, 08 Desember 2008

Apakah itu VoIP ?

VoIP, bagi sebagian orang sudah bisa merasakan kaidahnya, namun sebagian lagi masih harus bersusah payah menggali manfaatnya. Tidak semua orang mengerti VoIP. Namun, apakah arti sesungguhnya VoIP ?

Voice over Internet Protocol (juga disebut VoIP, IP Telephony, Internet telephony atau Digital Phone) adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa. Bentuk paling sederhana dalam sistem VoIP adalah dua buah komputer terhubung dengan internet. Syarat-syarat dasar untuk mengadakan koneksi VoIP adalah komputer yang terhubung ke internet, mempunyai kartu suara yang dihubungkan dengan speaker dan mikropon. Dengan dukungan perangkat lunak khusus, kedua pemakai komputer bisa saling terhubung dalam koneksi VoIP satu sama lain. Bentuk hubungan tersebut bisa dalam bentuk pertukaran file, suara, gambar. Penekanan utama untuk dalam VoIP adalah hubungan keduanya dalam bentuk suara. Jika kedua lokasi terhubung dengan jarak yang cukup jauh (antar kota, antar negara) maka bisa dilihat keuntungan dari segi biaya. Kedua pihak hanya cukup membayar biaya pulsa internet saja, yang biasanya akan lebih murah daripada biaya pulsa telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) atau internasional (SLI). Pada perkembangannya, sistem koneksi VoIP mengalami evolusi. Bentuk peralatan pun berkembang, tidak hanya berbentuk komputer yang saling berhubungan, tetapi peralatan lain seperti pesawat telephone biasa terhubung dengan jaringan VoIP. Jaringan data digital dengan gateway untuk VoIP memungkinkan berhubungan dengan PABX atau jaringan analog telephone biasa. Komunikasi antara komputer dengan pesawat (extension) di kantor adalah memungkinkan. Bentuk komunikasi bukan Cuma suara saja. Bisa berbentuk tulisan (chating) atau jika jaringannya cukup besar bisa dipakai untuk Video Conference. Dalam bentuk yang lebih lanjut komunikasi ini lebih dikenal dengan IP Telephony yang merupakan komunikasi bentuk multimedia sebagai kelanjutan bentuk komunkasi suara VoIP Keluwesan dari VoIP dalam bentuk jaringan, peralatan dan media komunikasinya membuat VoIP menjadi cepat popular di masyarakat umum. Khusus untuk VoIP bentuk primitif dari jaringan adalah PC ke PC. Dengan memakai PC yang ada soundcardnya dan terhubung dengan jaringan maka sudah bisa dilakukan kegiatan VoIP. Perkembangan berikutnya adalah pengabungan jaringan PABX dengan jaringan VoIP. Disini dibutuhkan VoIP gateway. Gambarannya adalah lawan bicara menggunakan komputer untuk menghubungi sebuah office yang mempunyai VoIP gateway. Pengembangan lebih jauh dari konfigurasi ini berbentuk penggabungan PABX antara dua lokasi dengan menggunakan jaringan VoIP. Tidak terlalu dipedulin bentuk jaringan selama memakai protocol TCP/IP maka kedua lokasi bisa saling berhubungan. Yang paling komplek adalah bentuk jaringan yang menggunakan semua kemungkinan yang ada dengan berbagai macam bentuk jaringan yang tersedia. Dibutuhkan sedikit tambahan keahlian untuk bentuk jaringan yang komplek seperti itu. Pada awalnya bentuk jaringan adalah tertutup antar lokasi untuk penggunaan sendiri (Interm, Privat). Bentuk jaringan VoIP kemudian berkembang lebih komplek. Untuk penggunaan antar cabang pada komunikasi internal, VoIP digunakan sebagai penyambung antar PABX. Perkembangan selanjutnya adalah gabungan PABX tersebut tidak lagi menggunakan jaringan tertutup tetapi telah memakai internet sebagai bentuk komunikasi antara kantor tersebut. Tingkat lebih lanjut adalah penggabungan antar jaringan. Dengan segala perkembangannya maka saat ini telah dibuat tingkatan (hirarky) dari jaringan VoIP.

Senin, 01 Desember 2008

Tugas Pertekom

Generalist adalah seseorang yang memiliki sifat general, hanya mengetahui segala sesuatunya hanya pada permukaannya saja, tidak dan tidak ingin mengetahui sesuatu hal secara mendalam srta menyeluruh

Versatilist adalah seseorang yang memiliki sifat ingin tahu, oleh karena itu dia mengetahui tentang suatu hal secara mendalam dan menyeluruh. Orang ini dapat menjadi spesialis dari suatu bidang. Berpikir lebih tinggi tingkat pengetahuannya dari beberapa orang. Juga dikenal sebagai generalis spesialis

Rabu, 10 September 2008

Ranjau Darat si Buaya Darat

Waktu bangun tadi pagi, lebih tepatnya tiga perempat siang, aku kaget banget. Pasalnya, waktu beres-beres buat kuliahku kurang 10 menit lagi. Belum mandi, gosok gigi, masukin buku, dan lain-lain. Aku jadi inget kata-kata papa kalau beresin buku itu harus malem sebelumnya. Biar besok paginya nggak kalang kabut kayak angin ribut. Tapi dasar bandel, wejangan satu itu nggak pernah aku masukin kepala. Masuk kanan, keluar kanan lagi. Pada intinya nggak pernah masuk kepala. Hasilnya ? Hmm, jangan tanya. Setiap pagi pasti ada suara gubrak,gubruk,srak,sruk, dan suara aneh lainnya. Buku pelajaran ku kemana-mana, campur jadi satu kayak gado-gado.

Aku memang dari dulu berbagi meja belajar dengan adik tercinta. Kita berdua memang punya kebiasaan yang sama pula, sama-sama males memberskan meja belajar. Kebayang kan pasti susah banget buat milih atoupun milah yang mana buku aku yang mana buku dia. Pernah karena saking telatnya nih, aku buru-buru banget ke kampus. Mandi sudah dikebut-kebutin (masih pakai sabun lho ya), naik motor pun sudah kayak maling dikejar polisi. Sampai di kampus, memang nggak telat lah, dosen baru sama-sama naik tangga. Malah sempet nyapa juga.
Tapi, justru disinilah letak perkaranya. Begitu aku membuka tasku, yang aku lihat bukannya buku mata kuliah Statistik, malahan buku Seni Rupa punya adikku. Terkejut bin senam jantung lah aku. Untungnya aku duduk belakang (dasar orang Jowo, walau sial tetap cari untungnya). Lepaslah pengematan dosenku dari aku. Rada lega. Selesai ? Blom..

Ternyata hari itu dosenku memang sengaja nggak memberi catetan, supaya mahasiswanya lebih aktif katanya. Selama ini dia melihat mahasiswanya kurang banyak aktifitas kelas, mangkanya sekarang dia menyuruh mahasiswanya buat baca bab II. Kalang kabutlah aku. Mau baca buku, masak buku seni rupa yang aku baca. Mana kanan kiri aku orangnya rajin-rajin pula, jadi sungkan banget kalau seumpamanya harus pinjem salah satu dari mereka. Otak diputar, bagaimana caranya biarpun aku nggak bisa sekalipun, tapi ada etalase buku di atas mejaku supaya sang dosen nggak marah.

Dasar biang nya suudzon (bahasa arabnya berpikiran jelek,red). Nyokap bilang kalau kamu mikir hal yang jelek, pasti jadinya jelek juga. Terbukti !!. Si Dosen yang tadinya anteng kayak macan tidur, tiba-tiba dateng menghampiri mejaku. Dia dateng dan bertanya kayak polisi. "Mana bukumu?". Ibarat kethek (kera) ditimpuk, akupun menoleh kekanan dan kiri. bingung mau jawab apa. "Lupa bawa,Pak",ujarku. "Nah itu buku apa ? ", todongnya. Wah, dasar anak perawan berhati preman, bisa-bisanya dia melihat buku sialan itu. Padahal sudah aku sembunyiin di bawah tasku. Rupanya sampul bukunya agak mengintip eluar karena tadi buru-buru memasukkannya. "Anu,Pak. Ini bukan buku saya. Ini buku adik saya. Tadi kebawa karena buru-buru.".

Jederrr,,, langsung saja, ibarat Taufik Hidayat men-smash lawannya di Olimpiade Beijing, semprotan-semprotan dosenku keluar dan langsung mancep dipikiranku. Dia bilang kalo ini mata kuliah statistik, bukan seni rupa. Dia juga bilang kalau aku mau mengolah data pake diukir segala apa. dan segala macem-macemnya. Bukan itu saja. Akhir jam kuliahnya, aku disuruh ke ruangannya.Dasar apes, aku disuruh untuk buat makalah tentang arti statistik pada jaman kuno, bagaimana polanya, dan bagaimana orang melakukan sensus pada jaman Romawi kuno,dan sebagainya. Satu lagi, aku disuruh untuk memberi gambar dimakalah itu. Gambar harus digambar dengan tangan pula. Itu karena dihubungkan dengan seni rupanya itu. Semua gara-gara buku sialan itu. Coba kalau dari kecil aku sudah nurut apa kata Bokap, pasti nggak bakalan ada itu makalah Kesenian Rupa dari Statistik. Menjengkelkan...

-Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan
yang sangat buruk-

What A Wonderful Yesterday

Gila, baru pertama kali ini, aku merasakan panik banget. Kenapa nggak, masalahnya kemarin itu waktunya untuk memberi undangan event yang aku bikin, ke sekolah tujuan akhir. Nah, kalau sudah diterima undangannya sama itu sekolah, aku dapet stempel dan kontak person sebagai bukti undangan sudah nyampai ke tangan yang bersangkutan di dalam sebuah kertas. Njlalah (pasti orang sselain Jawa ngga tau bahasa ini), waktu aku mau nyerahin undangan terakhir itu,kok tiba-tiba kertas tanda bukti aku menghilang. Aku cari kemana-mana, di dalam atau di luar tas pun ngga ada.

Anehnya, tadi waktu di rumah, kertas itu sudah aku masukin rapat-rapat ke dalam tasku. Tiba-tiba hilang begitu aja. Heran,donk. Panik, pastilah !!. Gimana nggak, yang bikin kertas kumel itu berharga bak sertifikat rumah kan karena di dalamnya ada sembilan tandatangan dan stempel sekolah lain yang sudah aku datengin. Kebayang kalau hilang, berarti aku harus datengin lagi setiap sekolah dan mengemis tandatangan dan stempel sekolahnya. Iya kalau langsung diberi, waktu itu aja ada satu sekolah yang lama buanget ngasih stempelnya, hanya karena ditinggal gurunya mengajar. Aduh, bisa-bisa tua dijalan aku. Kodonglah aku (bahasa Makassar, artinya kasihan,red).

Begitu tahu kertas tanda bukti raib di depan mataku, aku langsung menelpon rumah untuk minta tolong mencarikan di rumah. Mereka bilang nggak ada dimana-mana. Waduh, sudah jatuh ketimpa tangga, kepleset pula. Sial bener nasibku. Saking nggak percaya aku sama orang rumah, aku bela-belain buat pulang demi nyari sendri kertas itu. Alhasil memang nggak ada dimana-mana. Lututku lemes banget. Ngga bisa membayangkan gimana marahnya si bos kalau kertas itu sampai hilang, apalagi karena kecerobohanku. Wahh !!1
Tapi, pepatah orang tua ku memang ngga ada matinya. Mereka bilang kalau Tuhan itu ngga pernah taidur alias tidur. Kalau kamu minta dan yakin, seaneh apapun permintaan mu pasti dikabulin. Cuma masuk akal, tapi akalnya siapa aku nggak tahu. Waktu dijalan sambil mecucu, aku minta sama Tuhan supaya kertas itu ketemu. Dalam bentuk utuh pastinya. Aku sudah mikir yang nggak-nggak, umpama kertas itu jatuh ke dalam got, ditemu orang terus dibuang ke tempat sampah karena dianggap kertas ngak jelas, sampai dibuat bungkus gorengan sama tukang gorengan.

Waktu dirumah tadi, sambil mengurangi pahal puasa dengan marah2, aku membuat lagi tanda bukti yang baru. Bener bener baru ! Kosongan tanpa ada stempel atau CP siapapun. Sambil berpiir pula kalau harus kembali ke satu persatu sekolah yang sudah aku datengin.
Dasar Dewi fortuna memang bikin happy (memangnya Dewi Persik aja yang bisa bikin happy), tiba-tiba waktu aku sudah menginjakan kaki di sekolah tempat "nyawaku" hilang tadi, tiba-tiba... TAK TAK DUK DUK DES. Aku melihat secuil bayangan (halah), alias sehelai, selembar, sebuah, atau seapapun itulah,kertas tanda buktiku yang hilang !!. TA DA !! Akhirrrrnyaa. Hufff.. Waktu aku buka tuh kertas sialan, aku melihat stempel2 nya yang membuat mataku langsung kinclong, kayak ketemu Titi Kamal lah. Seneng bukan main lah. Langsung aku sujud seketika itu pula. Legaaa rasane. Dasar Wong Jowo tenan, sudah sial, masih adja untung.

Yah, walaupun sudah mengorbankan satu buah kuliah pada hari naas itu, tapi akhirnya tetap lega. Kalau ada lagu Cinta ini Membunuhku, aku bakalan mengganti dengan Kertas ini Membunuhku. Pancene...!1


-Every man suffers pain, either the pain of hard work, or the pain of regrets-

Senin, 08 September 2008

Seolah-olah Happy, Padahal Memeti

wah, lumayan. Mumpung punya kesempatan buat nulis-nulis, sekarang pengen berbagi macem2 kisah lagi,ah. lumayan, selain bisa nambah isi blog baru ( alias kemaruk), pengen juga pamer ke temen2. Malu donk kalo dipamerin tapi nggak ada isinya.

Ngomongin tentang malu, ko kayaknya aku masih malu-malu dikerjaanku ini ya. Padahal kalo dihitung-hitung, aku udah aga lama. Yah, boleh dibilang bukan anak baru lagi sih. Tapi tetep aja perasaan untuk berbuat sesuatu itu masih dihinggapi sama perasaan sungkan. Aslinya sih, justru di tempat kerjaanku ini dituntut untuk berperilaku malu-maluin. Tapi yang kreatif pastinya. Yaweslah
.
Tapi, mau sampai kapan ya aku harus kayak begini. Mending aku keluar aja ??, Eits, tapi itu bukan pilihan yang bagus juga. Mau menghindar, ngga bakalan bisa. Bisanya cuma satu aja, membuat semua jadi enjoy dan menyenangkan. Tetep fokus, yang penting. Kayak kata "sebuah" mbak di tempat kerjaan ini, fokus itu ketika kita liat komputer, yang dilihat bukan hanya LCD,Keyboard, atopun CPU nya aja, tapi keseluruhan. Dan bukan dari satu sisi aja, tapi dari keseluruhan sisi. Biar tahu apa bentuknya, apa gunanya, bahkan sampai darimana itu berasal. Focus is the first lesson

Cukup sini aja, bentar dulu. berikutnya akan ada lesson-lesson menarik lainnya.
- be your self-
Powered By Blogger